We Sit Silent, Facing Each Other

Jennie berjalan malas menuju kelas yang biasa ia pakai untuk kuliah. Entah apa yang melewati pikirannya, Jennie berbalik dan berniat untuk ke kantin karena waktu masuk masih lama.

Jennie duduk di salah satu bangku dekat jendela sambil mengutak atik handphone nya.

“Mba Latte nya satu”

Suara itu bukan dari mulut Jennie melainkan lelaki di seberang mejanya. Jennie terdiam sebentar, lalu tersadar.

We sit silent, Facing each other

Tanpa sapaan ataupun senyuman, seperti orang asing. Keinginan untuk menyapa pun hilang.

‘he doesn't even care anymore’

Mood Jennie untuk makan pun hilang. Ia beranjak pergi meninggalkan kantin.

“Hey disini Jen? kampus kamu kan di seberang?”

“Eh hai kak, iya lagi main aja. Ga ada kelas?”

“Baru aja selesai, kamu?”

“Bentar lagi nih”

“Semangat yaa”

“Makasih kak!”

Jennie mengangguk sambil tersenyum sumringah, dalam hati udah gak karuan.

Mino, kakak tingkat diatasnya yang ia kagumi semenjak masuk salah satu unit kegiatan mahasiswa di bidang photography yang diikuti Jennie.

Berawal dari nganterin Jennie pulang karena jadwal rapat yang kadang sampai larut.

Orangnya humble, gak jaim sama sekali. Kalo udah pake kacamata cakepnya nambah.

Sayang, udah ada pemiliknya. Apalah daya Jennie yang hanya bisa mengagumi.

‘jen lo udah naksir kak Mino kenapa masih galauin Jaewon’

‘jen katanya udah ga peduli kok foto jaewon masih disimpen simpen’

‘labil banget jen pilih satu dong’

Jawabannya cuma satu. Seseorang boleh pergi, tapi memori tertinggal permanen.

Seorang Jung Jaewon yang kerap menjadi alasan kagalauan Jennie berasal. Alasan awal Jennie untuk mengikuti ukm photography itu ya dia.

Jaewon memang dikenal pintar photography yang sudah ia tekuni dari SMA.

Prinsip Jennie, Gak minta lebih, cukup bisa sering liat dia aja. Tapi prinsip itu yang bikin Jennie jadi kalap. Bukannya ngebantu proses move on malah rasa itu semakin bertambah.

‘kenal Jaewon udah berapa lama?’

Jangan ditanya, kenal juga baru dari acara ospek.

Berasal dari satu kelompok ospek, semua perlakuan care Jaewon ke Jennie, yang mungkin disalahartikan oleh Jennie, yang nyatanya gak ada maksud apa apa.

Jennie cukup tau itu, dan bodohnya ia berharap sesuatu yang lebih dari seorang Jung Jaewon.

Jennie selalu merutuki dirinya sendiri, sambil membatin setiap berpapasan dengan Jaewon.

‘sapa gak ya, sapa gak ya’

Terlalu canggung untuk menyapa, terlalu gelisah untuk diam saja. Berakhir dengan pura pura gak ngeliat.

Jennie jalan gontai,

“Jen, but what if he's waiting for you to start talking to him and you're waiting for him to start talking to you?”

-END-